Video

Jatim Jadi Embrio Gerakan Teror di Indonesia, Ini ...

TRIBUNJATIM.COM, SURABAYA-Jatim terbilang menjadi wilayah strategis dalam dinamika persebaran kelompok radikalisme yang acap melakukan aksi teror. Tak pelak, membuat wilayah dengan luas wilayah 47.922 kilometer persegi itu, menjadi berada diurutan ketiga provinsi yang paling disoroti Badan Nasional Penanggulangan Terorisme Republik Indonesia (BNPT-RI). Setelah Provinsi Sulawesi Tengah, dan Provinsi Nusa Tenggara Barat. Bukan sebatas jumlah kasus insiden teror mulai dari pengeboman hingga penyerangan fisik simbol negara; aparat keamanan. Namun sejumlah pentolan kelompok teror, ternyata berasal dari kabupaten atau pun kota di Jatim. Kepala Bidang (Kabid) Agama, Sosial dan Budaya Forum Koordinasi Pencegahan Teroris (FKPT) Jatim, Muhammad Arifin menyebut kawasan Jatim sebagai satu diantara embrio gerakan kelompok teror. Sejumlah kasus teror seperti peledakan bom di Bali ke-1 dan ke-2 pada medio awal tahun 2000-an, ternyata dilakukan oleh pentolan kelompok teror yang berasal dari Jatim. "Bukan hanya tempat lewat lagi, tapi di sini sudah menjadi, istilahnya itu tempat yang strategis, bukan hanya mengirim, tapi langsung berkembang embrio teroris," katanya dalam wawancara ekslusif Zoom TribunJatim.com, Minggu (14/3/2021). Memutus mata rantai persebaran anggota kelompok teror di Jatim tak semudah membalikan telapak tangan. Mantan Dosen Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) itu mengatakan, terorisme seperti sebuah perang global (proxy war). Apalagi, faktor pendukung munculnya aksi teror ditengah masyarakat, tak semata-mata sebagai dimensi pemahaman agama. Namun berkelindan pula di dalamnya problematika sosial, ekonomi dan budaya masyarakat. Namun, menilik kasuistik aksi teror yang dilakukan kelompok yang mengatasnamakan agama. Arifin memiliki tinjauan lain. Kekerasan yang berujung pada perilaku teror ternyata diawali oleh kecenderungan seseorang bersikap intoleran. Intoleran yang dimaksud, adalah berspektrum agama. Seperti mengkafirkan orang lain menganut agama berbeda, atau pun mereka yang tak sepaham dengan mereka soal ajaran agama tertentu. Arifin menerangkan, watak intoleran sejatinya merupakan gejolak psikologis yang bermula dari perasaan iri, dengki, keinginan menghasut, dan sombong dalam batin. Hanya saja dalam level tertentu gejolak psikologi itu tidak diantisipasi. Maka bakal berubah menjadi rencana jahat yang bersifat radikal. Manakala kondisi mentalitas semacam itu tetap tak ditangani. Individu tersebut besar kemungkinan untuk melakukan tindakan-tindakan bersifat ofensif yang cenderung merusak (destruktif), seperti teror. "Rencana ini kalau dibiarkan, atau tidak diputus, maka akan bisa menjadi aksi yang namanya adalah teror atau teroris," jelasnya. Sayangnya, ungkap Arifin, cara berfikir demikian mudah sekali diidap oleh anak berusia remaja. Mereka yang masih berada dalam suatu fase mentalitas berkembang menuju kematangan. Mengingat kondisi mentalitas mereka yang masih berkembang. Segala bentuk narasi ajaran kehidupan yang berisi nilai-nilai tertentu, terbilang mudah mereka yakini. Biasanya, lanjut Arifin, para remaja itu memiliki kecakapan intelegensi tinggi, justru yang terbilang mudah dipengaruhi oleh anggota kelompok teror yang berkamuflase di tengah masyarakat. Ketika kebencian terhadap suatu entitas di luar dirinya dimasukkan dalam mentalitas si anak. Maka di situ akan dengan mudah si anak untuk dikendalikan. Apalagi nilai kebencian dilegitimasi oleh secuil ayat kitab suci Tuhan, sehingga membuat si anak tak lagi memiliki ruang kesempatan mempertanyakannya, selain meyakini sebagai suatu kebenaran. Itulah mengapa tak jarang aksi teror dalam bentuk apa pun, dalam beberapa kasus, dilakukan juga oleh seorang berusia remaja. Realitas semacam, bagi Mantan Anggota Badan Narkotika Nasional (BNN) Jatim itu, ternyata acap terjadi di lingkungan pendidikan, seperti di kampus. "Misalnya, ayat yang mengatakan barang siapa yang tidak berhukum kepada hukum Allah, maka kafir. Nah sudah menjadi doktrin, itu ditanamkan dulu," ungkapnya. Oleh karena itu, lanjut Arifin, FKPT Jatim terus berupaya melakukan pencegahan dengan mengedepankan pendekatan secara halus. Yakni dengan melakukan kontra narasi-narasi intoleransi melalui pengajian berbasis komunitas, yang digelar secara berkala di sejumlah kawasan yang terbilang rawan. Termasuk menjalin sinergisitas dengan para pemuka agama melalui Kementerian Agama, guna memberikan ajaran nilai-nilai agama yang terbilang menyejukkan dan damai. "Tapi mengajak pendekatan cara halus, mengajak berpikir masa depan, asas manfaat yang kita kedepankan, saya kira nanti mereka akan terbuka. Misalnya di dalam Islam itu tidak ada ayat-ayat yang perintahkan untuk membunuh," pungkasnya. Video editor: Edy

BINCANG RADIO SUARA SURABAYA BERSAMA FKPT JATIM

Dialog di radio Suara Surabaya dengan ketua FKPT Jatim, Dr. Hesti Armiwulan, S.H., M.Hum. tentang aksi radikalisme, ekstrimisme, dan terorisme.